Kembaranku Semangatku


Kembaranku semangatku

               *disekolah* “Hai Dev! Hai Vin!” kata Salsa kepada mereka berdua. Ada seorang anak bernama Devin Reikha Fariza, dia sekolah di sekolah Putri Santosa. Dia mempunyai kembaran bernama Devon Reikha Fariza, dia bersekolah di sekolah Putra Santosa. Mungkin kalian berfikir aneh, bagaimana bisa kembar tetapi berbeda kelamin? Yup, itu masih menjadi misteri bagiku. “hai!” kata mereka berdua menjawab dengan kompak saat turun dari mobil.
*dikelasPUTRISANTOSA* “Devin! Sini! Lihat apa yang aku bawa!” kata Vera kepadaku. “apa? Keren!” kata Devin kagum akan yang Vera bawa. Pasti kalian penasaran apa yang Vera bawa. Dia membawa gitar terbarunya. Mereka berdua memang holic akan gitar. Hihihi. Itu sangat menyenangkan bagi mereka berdua.
*dikelasPUTRASANTOSA* “hey guys! Ada yang nonton bola semalam?” kata Devon kepada teman temannya yang sedang asik. “tentu! Apa kau tau? Yang mencetak gol adalah abangku” kata Rey salah satu teman Devon sambil tertawa bercanda.
Waktu sekolah mereka lalui masing masing. “KRINGGG!!!!!” Suara bell tanda pulang telah berbunyi. Semua anak anak berhamburan. Devon dan Devin menuju gerbang untuk menunggu dijemput. “Vin, ini tas gue! Bawaiin!” kata Devon dengan kasar ke Devin. “uhm, iya von” kata Devin dengan gugup. Akhirnya jemputan mereka sampai.
“ma, mama! Tolong ma tolong!” kata Devon masuk kerumah terburu buru dalam keadaan lemah dan mimisan. “kamu kenapa von?” kata mamanya terburu buru. “BRUK!!” suara badan Devon yang jatuh kebawah. Yups, Devon pingsan. “Mbaa! Vin!! Tolong! Ayo cepat bawa Devon kerumah sakit! Cepat!” kata mamanya khawatir.
*dirumahsakit* “Dokter! Dokter! Tolong!” kata mamanya berlari memanggil dokter. “iya bu! Tim medis akan segera menanganinya. “ibu tunggu disini saja ya” kata salah satu suster. Setelah lama menunggu dokterpun keluar dari ruangan “anak ibu baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat 3 sampai 4 hari.” Kata dokter menjelaskan dengan singkat. “syukurlah. Terimakasih dok.” Kata mama devon segera masuk keruangan devon diikuti oleh Devin. “lihat kakakmu. Apa kau tidak mengawasinya?” kata mamanya kepada Devin dengan nada tinggi. “maaf ma, aku…” kata Devin dengan gugup dan langsung dipotong dengan ayahnya yang baru saja datang “bukan salah Devin juga dong ma.” Kata papanya membela Devin, memang dia tidak bersalah. Devin langsung keluar ruangan.
Dia duduk di bawah sambil menangis dan berkata dalam hati “betapa bahagianya hidup Devon” dia meneteskan air matanya dan mengingat kejadian dulu yang pernah dialami mereka. Dulu, saat Devon dan Devin masih kecil. Mereka pernah mengalami kecelakaan yang hebat. Sampai-sampai Devon harus kehilangan satu ginjalnya. Karena melihat mamanya menangis tak karuan, dia merelakan ginjalnya untuk Devon. Sehingga dia yang harus menjalani cuci darah, bukan Devon. Dia tahu betapa berartinya Devon bagi orangtuanya.
“nak, apa yang sedang kau lakukan? Mengapa menangis? Apa orangtua mu sedang sakit?” kata seorang perempuan cantik seumuran ibunya dengan ramah menyapanya. “bukan, tapi yang sakit kembaranku..” kata Devin sambil mencoba tersenyum “hm, begitu rupanya. Lalu apa yang kau sedihkan. Kau harus membuat kembaranmu tetap kuat bukan? Aku tau, kau pasti gadis yang sangat kuat.” Kata perempuan itu tersenyum “iya, memang Devon selalu memiliki orang yang peduli terhadapnya, termasuk orang asing” kata Devin dalam hati. “kau tidak mengerti nona” kata Devin langsung berlari meninggalkan orang itu.
Tiga hari kemudian. Hari ini adalah hari kepulangan Devon. Kondisi Devon sudah terlihat baik. Mereka menjemput Devon dan segera membawanya pulang. “hai Dev! Apa kau sudah mengerjakan tugas yang aku berikan?” kata Devon pada Devin. “sudah von.” Kata Devin lemas. Memang Devon itu selalu menganggap Devin seperti budak. Padahal mereka berdua kembar. Devin tidak pernah mengambilnya serius, karena dia tahu, sebesar apapun pembelaannya terhadap dirinya, tetap Devon yang akan menang.
Keesokannya. Sekarang tepat pukul 21.00 malam. Devon tidak ada dirumah, di sedang pergi bermain bersama temannya di luar. Devin yang hanya asik dengan laptop dan novelnya tak merasa terganggu akan keributan dibawah. “papa seharunya tidak membela Devin! Memang dia yang tidak memperhatikan Devon! Dia sangat tidak berguna!” kata mama “mama yang harusnya bersikap adil terhadap kedua anak kita!” kata papa. Namun, tersontaklah Devin akan apa yang ia dengar. Sangat tidak berguna. Kata-kata yang membuat hatinya hancur. Dia turun kebawah. “ma, maafin Devin yaa. Devin memang tidak berguna” kata Devin sambil menangis dan meninggalkan rumah sambil membawa tas yang berisi pakaian “Vin! Dengar papa dulu!” kata papanya mengejar “Devin sayang papa” kata devin sambil mencium papanya lalu pergi.
Tidak lama dari kepergian Devin. Tepat jam 23.30 Devon belum juga pulang. Mama sudah terlihat khawatir. Papa tetap cuek dan berfikir tentang Devin, karena dia tahu bagaimana sifat anaknya Devon yang selalu pulang malam. “KRIIINNGG!!” telephone berbunyi. “halo, keluarga Mario disini. Ini siapa?” kata mamanya mengangkat telephone. “…….” Mama terdiam dan menangis. “ada apa ma?” kata papa “Devon pah! Devon kecelakaan karena balapan motor liar!” kata mama yang langsung pingsan.
Malam itu juga Devon langsung dibawa kerumah sakit lagi. Dengan cepat kabar itu sampai ke Devin. Devin berfikir, memang mereka hanya mementingkan Devon. Toh, untuk apa dia datang kesana? Tak lama kemudian, dokter keluar dan memberitahukan bahwa Devon harus mendapatkan beberapa transmisi organ dalam. Mamanya tambah kencang menangis. Lalu kabar itu langsung cepat sampai pada Devin. Devin yang tadinya cuek, akhirnya terburu-buru menuju rumah sakit.
Setelah sampai, dia tak menemukan siapapun. Dia berniat menginap di rumah sakit. Tetapi dia bertemu dengan teman Devon. Akhirnya dia menginap dirumah temannya itu. “lo dari rumah vin?” tanya Kenny kepada Devin “enggak, gue dari luar. Udah yaaa gue tidur duluan.” Jawab Devin yang langsung pergi meninggalkan kamar Kenny.
4 hari berlalu. Devon belum sadarkan diri juga. Belum ada organ yang cocok terhadap Devon. Kondisinya semakin lemah. Dokter bilang, jika operasi tidak segera dilaksanakan, Devon akan kehilangan nyawanya. Setelah mendengar berita itu Devin langsung datang ke ruang dokter. Dokter melakukan check up dengan Devin, dan ternyata cocok. Dokter langsung mengambil tindakan tanpa memberitahukan bahwa Devin lah pendonornya atas perintah Devin.
Operasi dilakukan cukup lama. Kira-kira 10 jam. Setelah selesai dokter langsung keluar. Dia memberi tahukan kondisi pendonor dan yang didonor. Papa dan mama sangat kasian dan berterimakasih terhadap si pendonor, karena dokter bilang umurnya sangatlah pendek. Papa dan mama memaksa dokter untuk memberitahukan siapakah pendonor itu. Dokter masih belum bisa memberitahukannya.
4 hari setelah operasi, Devon diizinkan pulang. Dia langsung beraktivitas seperti biasa, tanpa memikirkan kemana Devin pergi? Kedua orang tuanya juga tak mencari Devin.
Sampai suatu saat. Keadaan Devin sangat kritis, dia bangun dan bilang pada dokter dia ingin bertemu dengan orangtuanya. Si dokter bertanya siapakah orangtuanya. Dia bilang, orang tuanya adalah orangtua anak yang mendapatkan organnya. Dia kaget, ternyata satu keluarga. Tapi sama sekali keluarga itu tidak mencarinya.
Dokter menelfon dan meminta papa dan mama datang ke rumah sakit. Papa dan mama bingung, ada apa ? setelah sampai di rumah sakit, mereka bertanya “ada apa dok memanggil kami berdua?” “apa kalian mempunyai anak kembar?” kata dokter itu to the point “iya dok, tapi beberapa waktu belakangan kami tidak melihatnnya, dia sempat bertengkar dengan kami. Dan saya, lupa untuk mencarinya karena terlalu khawatir akan Devon.” Jawab mama dengan tenang. Muka papa memucat, karena dia baru ingat akan anaknya yang lain. “sekarang dia sedang dalam keadaan kritis.” Kata dokter “apa?! Apa yang  terjadi terhadap dia? Kecelakaan?” kata papanya dengan nada yang kaget. Dokter tidak menjawab dan membawa kedua orangtua itu ketempat dimana Devin dirawat. Tubuhnya penuh dengan alat bantu. Mereka hanya bisa melihat dari luar kaca.
Kalian boleh masuk, dia adalah pendonor dari Devon. Waktu dia tidak lebih dari 1 hari. Papa langsung masuk, dan mama tetap diam membisu didepan pintu. “nak, betapa mulianya kau nak. Merelakan nyawamu demi kembaranmu yang sama sekali tak menganggapmu kembaran.” Kata ayahnya meneteskan airmata, mama menyusul papa ketempat Devin. Devin bangun, dia terlihat ingin bicara. Papa memberikan secarik kertas.
Diluar ruangan “dok, anak itu kenapa ya dok?” “ Sebenarnya dia baik-baik saja. Gadis itu sangat luar biasa. Dia memberikan nyawanya untuk kembarannya.” Kata dokter menjelaskan terhadap perempuan yang bertanya “itu sebabnya kenapa waktu itu anak itu menangis” kata perempuan itu dengan lesu “kapan kau melihatnya menangis?” ka dokter “mungkin dua minggu yang lalu” kata perempuan itu. “saat itu kembarannya hanya terlalu lelah. Bukan itu sebabnya dia menangis” kata dokter “lalu karena apa?” kata perempuan itu penasaran. “dia menangis karena orangtuanya lebih mementingkan kembarannya daripada dia.” Kata dokter “bagaimana kau tahu?” perempuan itu membalas “dia menceritakannya padaku.”
Devin memberikan kertas itu pada papa. Dia tersenyum. Terlihat sangat bahagia, tentram, dan damai. Tidak lama dari saat itu, Devin meninggalkan semuanya. Termasuk kembarannya. Devon diberi kabar oleh papanya. Dia hanya bilang “oh” teman yang lain melihat kelakuan Devon yang sangat tidak bermoral langsung membencinya. Teman-teman Devon tahu apa yang Devin korbankan demi Devon. Devon segera ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit Devon melihat papanya menangis, disitu ada kertas yang bertuliskan “tolong jaga Devon untukku, karena sebagian tubuhnya adalah AKU” Devon kaget. Dia baru tahu, ternyata yang memberikan organ padanya adalah Devin. Betapa kejamnya dia pada Devin pikirnya. Devon menangis, dia memeluk papa dan mamanya. Berakhirlah semua cerita.

Jadi guys, apa yang bisa kalian ambil dari kisahku? Yup, kehidupan itu tak semudah membalik telapak tangan. Saudara kita tak akan pernah melupakan ataupun meninggalkan, karena kita SAMA.

Komentar

Postingan Populer